sunset

disaat matahari terbenam maka tidak ada salahnya jika seberkas cahaya kuning yang redup menemani kesendirian kita.:)

LIBURAN MAGETAN SARANGAN MADIUN

jika kamu merasa sendiri maka jangan lah berpikir berlebihan terhadap mereka. . . :)

Refreshing Dieng dan Batur Raden

disaat kamu sudah sukses nanti maka ingatlah hari ini... :)

Hanyutin cita-cita di laut


nih ceritanya waktu aku dan teman-teman ku lempar cita-cita dilaut (tujuannya sih kayak perahu kertas gitu, eitttssss jangan fitnah kami ikut-ikutan perahu kertas yo. soalnya ini foto diambil sebelum novel perahu kertas keluar) hehehehe :D pemeran dalam foto ini ada aku sendiri yang senang nulis tapi anget-anget tai ayam, Rian katanya sich kekurusan (gak beda jauh kurusnya kalee), ada anja juga orangnya gemuk buanget (sekarang agak kurus), santri juga gak ketinggalan kok yang selalu Girang (gigi jarang), atik juga ada (dia bilang sih udah dewasa saatnya sadar coyyy), nurul gak akan ketinggalan dong (tante satu ini menel banget bookkk), dan yang terakhir dela (ini cewek penyokong keuangan deh, ihhh tapi sok kemanisan). nah mungkin perkenalannya cukup untuk tokoh yang ada di dalam foto diatas nanti kalau diceritain semua dibilang bongkar aib lagi, eheheheehe *keep smile.

awalnya gak ada niat untuk pergi kelaut ini, tapi ini terjadi karena adanya trouble antara kaum muda dan kaum tua yang saat itu berseteru merebutkan posisi pemenang. wkwkwk kayak apa aja, padahal ini kan terjadi karena sakit hati. hehehe gak punya malu banget dech kayaknya sok-sok an kompak padahal kan enggak.

waktu itu si santri kan di undang untuk mengisi materi di acara kemahnya adek kelas, tapi rame banget yang mau ikut mendampingi, biasa santrikan mantan ketua OSIS jadi, banyak yang mendampinginya kayak macam bodyguard gitu. nah pas masih di perjalanan tiba-tiba dari pihak panitia menyampaikan pesan dari atasannya bahwa tidak boleh lebih dari dua orang (maksudnya yang diundang cuma santri sama santo aja), biasalah iya pemain sinetron semua. jadi si santri ini gak mau kalo cuma berdua (padahal dalam hatinya senang berduaan sama santo, wkwkwkw pisss san).

sekitar berapa menit berbincang akhirnya santri memutuskan bahwa dia gak mau ngasih materi dengan alasan gak enak sama kami. kami sih gak mempengaruhi tapi santrinya aja yang gak mau. oh ya alhasil kami serba salah, mau balik ke sekolah gak mungkin, udah tanggung. udah deh dengan kesepakatan yang panjang akhirnya diputuskan dengan tanda tangan putih diatas Pink bahwa hari ini kami Bolosss (Horeeeee), loh kok bolos sih ? gimana cita-cita yang dihanyutkan dilaut mau tercapai. hehehehe :D *ketahuan dech.

gak hanya ini sih kisah dari foto ini, banyak banget sampai ada peperangan lanjutan di dunia maya (dibaca facebook). ini sih gara-gara anja yang buat status saat emosi sedang memuncak (kalo katanya santri sih emosi sesaat), nah pada malam hari H perseteruan kan udah damai tho antara kaum muda dan kaum tua. tapi si anja lupa ngehapus status tersebut dan 2 hari setelah itu dibacalah status itu sama kaum muda, ya udah perseteruan yang sudah damai kembali berapi-api lagi.

tapi tenang masalah itu pasti dapat diselesain oleh siswa/i SMA Negeri 1 Alay, dengan kealayan yang dimiliki mereka damai dengan tangisan yang mengharu biru.

oke, bukan maksud mengungkit masa lalu, tapi inilah keindahan kenangan masa SMA yang tak akan pernah datang dua kali, ingatlah hari ini kawan... :D *cuma mengabadikan kisah saja. over alL, Love You All forever.

NB : tunggu kisah foto selanjutnya iya...heheh :)

LILO, PUTRI TERIMAKASIH

Saat aku terbangun dari tidur kulihat layar di ponselku berharap aku bisa menikmati keindahan pesan yang datang dari orang yang selama ini aku sukai, iya viko.

“ bangun… qis bangun udah siang ini.” Suara yang tak asing lagi di telingaku.

“ iya bu, ini balqis udah bangun.”

Sebenarnya aku tidak perlu memasang alarm lagi karena setiap pagi ada alarm yang lebih ampuh dari alarm yang biasa aku gunakan, mau sekeras apapun alarm yang kupasang hanya sekali dua kali aku bisa bangun dengan sukarela. Biasanya kalau gak hape nya yang ku lempar bantalnya yang bakal aku sobek-sobek sampai isinya berterbangan.

Ceklekk..
“ astaga ni anak malesnya minta ampun, bisa gak kalo udah bangun langsung beres-beres itu cucian baju masih …”

“ iya bu ini masih beres-beres.” Aku langsung memotong pembicaraan ibu ku karena kalau tidak di potong tidak akan selesai sampai tahun baru 2014 yang akan datang.

“ selalu saja kalau ibu bicara kamu potong, itu tuh cowok kamu udah jemput.” Hahh ? cowok ? sejak kapan aku punya cowok, aku bertanya-tanya dengan memory otak ku yang masih bingung menentukan cowok mana yang akan dia sebutkan.

“ tuh ngapain itu mulut kok nganga gitu, awas lalat masuk. Buruan gih sana mandi.”
“ ehh… iya bu.” Aku lenyap dari hadapan ibu ku.

***

“ eh kamu ternyata, maaf iya udah nunggu lama. Kirain aku ntah makhluk dari mana gitu yang nyasar jemputin aku.” Basa-basi ku dengan tamu tak di undang ini.

“ makhluk ? udah kayak bukan dari bumi aja.”

“ terus apa dong kalo bukan dari bumi, eh iya btw kamu tau rumah ku dari mana ?” kebetulan ini makhluk anak baru di sekolah ku, tapi kok tiba-tiba dia tahu rumah ku, kan aneh banget. Apa jangan-jangan dia ngikutin aku ? wah tanda-tanda gak bagus ini.

“ gak penting kamu tau dari mana aku bisa tahu rumah mu kan ?” balasnya jutek, yah mungkin sudah takdir aku dapet teman baru yang koplak.

Impian aku banget bisa naik motor ninja ini, kebetulan banget dia bawa ninja. Di jalan aku membayangkan kalo aku sedang berada di belakang boncengan viko, membentangkan tangan menghirup angin dijalanan.

“ kamu seneng banget iya naik motor bareng aku ?”

“ Ge Er banget sih kamu, aku tuh menikmati angin pagi yang masih segar ini.” Selalu di jawab dengan pemberontakan, padahal memang benar aku senang tapi tidak karena bareng dia juga kali.

Sepanjang perjalanan setelah dia ke pedean tadi kami tidak sedikit pun bersuara, mungkin dia lebih memilih diam dari pada harus berurusan dengan aku yang kata orang cerewet dan jutek. Tapi tenang itu Cuma kata orang, bukan kata ku. Kan sebenarnya aku itu baik hati, tidak sombong, rajin menabung, suka membantu, dan kalem banget. Kepedean dikit kayaknya tidak apa-apa, mumpung masih gratis.

Karena keheningan diantara kami yang terdengar hanya suara motor yang serak-serak becek dan gesekan angin yang terasa dingin di kulit, karena aku lupa untuk memakai jaket tadinya.

***

“ heh lu kok bisa sama dia qis ?” Tanya putri, putri ini teman ku.

“ gak tau juga, tiba-tiba dia datang jemput aku kerumah.” Jawab ku sekenanya, tanpa merasa ada orang yang aku tinggalin. Oh iya dari tadi aku belum memperkenalkan cowok yang jemput aku tadi, namanya Lilo lumayan ganteng tapi yang sekarang ada di hatiku Cuma viko dan tidak akan ada penggantinya.

“ jangan-jangan lu suka lagi sama dia.” Selidik putri.

“ enak aja, masa iya baru kemaren dia datang aku udah kegatelan. Sorry mau dia di puja-puja sama cewek satu sekolah juga aku gak akan ikutan.” Jawabku mengelak dari tuduhan putri.

“ kalian lagi ngomongin aku iya ?” tiba-tiba Lilo nongol dari belakang kami.

“ iya kami lagi ngomongin kamu, terus nye…”

“ gak usah ke GE ER an deh jadi orang, ngapain juga kami ngomongin kamu. Gak penting banget.” Aku memotong omongan putri karena kalau enggak, kebiasaannya yang suka keceplosan bakal membuat aku malu saja.

“ ayo jujur aja, jangan menutupi aku tahu kok.”

“ aku duluan iya mau kekamar mandi dulu.” Ucap ku tak membalas apa yang dikatakan oleh si Lilo.

“ iya hati-hati, kalo jatuh bangun sendiri.” Balas putri cengengesan.

***

Aku ke kamar mandi bukan alasan karena tidak mau bareng sama si Lilo tapi aku memang kebelet buang air kecil. iya walau pun terkesan aku enggak mau bareng sih.

Astaga apa yang harus aku lakukan, disamping toilet rame banget cowok nongkrong apalagi di situ ada si Viko lagi. Kenapa sih jalan mau kekelas aku dari toilet Cuma satu-satu nya jalan yang di pakai anak cowok nongkrong ini. Well, mau enggak mau aku harus lewat juga soalnya kalau tidak ini bakal jadi buat masalah karena aku telat masuk kelas.

“ cewek, cuitt…cuitt… balqis di sini ada viko lho. Godain viko dong.” Goda salah satu teman viko. Muka ku yang semula berwarna putih chinese berubah jadi seperti udang rebus. Bahkan kaki ku saja seperti menahan beban berat yang membuat aku susah untuk melangkah.

Hampir satu sekolah tahu kalau aku suka dengan si viko, ini gara-gara rani. Dia yang menyebarkan gossip ini keseluruh penjuru sekolah ku.

Waktu itu aku dan rani adalah teman yang sangat dekat, bahkan aku enggak nyangka kalau kami harus memutuskan persahabatan karena gara-gara viko. Aku sangat percaya dengan rani, semua yang aku alami selalu aku curhatin dengan dia. Tak luput juga kalau aku juga cerita suka dengan viko, aku ceritain semua kalau aku senang bisa dekat dengan viko. Terus viko juga sering pulang bareng sama aku, aku ceritain juga sama si rani.

Itu Cuma hayalan aku semua bahkan si viko saja enggak kenal denganku, tapi ternyata si rani juga suka dengan si viko. Dan mungkin karena di sangat suka sehingga iya rela melakukan apa saja supaya dia enggak ada saingan. Dia deketin si viko, dia ceritakan semua apa yang aku ceritakan sama dia. Padahal dari awal aku bilangin ini hanya hayalanku, tapi di bilang dengan viko tanpa ada kata hayalannya. Dan banyak juga gosip-gosip yang dia buat sendiri agar si viko bener-bener benci sama aku, dan dia berada di zona aman.

Mulai dari saat itu aku dan rani gak deket lagi bahkan kami yang semula satu tempat duduk, pindah mencari tempat duduk yang lain.

***

Setiap hari Lilo jemput aku dan mengantar aku pulang walau pun enggak pernah aku ramah dengan dia, selalu saja aku buat dia kesel. Tapi walau pun aku sering membuat dia jengkel tapi dia tetap sabar menghadapi aku.

“ mau kemana kita Lo ?” tanyaku saat pulang dari sekolah karena tidak menuju arah rumahku.

“ aku pengen ngajak kamu ke suatu tempat.” Ucapnya.

“ tapi aku mau cepet pulang, ntar aku dimarahin sama ibu ku.”

“ tenang aku udah izin dengan tante kok tadi.” Ucapnya menenangkan.

Kalau si Lilo udah ngomong kayak gitu aku ngikut aja, karena dia sangat pintar mengambil hati ibu ku. Padahal baru sebulan kenal, ibu ku senang banget dengan si Lilo. Gimana enggak seneng setiap dia datang bawain ibu kue terus, ya wajar aja kalau anaknya pun dikorbankannya dengan makhluk Pluto yang paling ganteng ini.

“ ngapain kita ke taman ini ?” Tanya ku yang aneh karena diajak oleh si Lilo duduk berdua di bangku taman.

“ ini buat kamu, kamu suka es krim kan ?” dia tidak menjawab pertanyaanku, hanya menyodorkan es krim dari tasnya.

“ ayo pasti ini ada udang di balik nasi kan ?”

“ udah makan dulu itu, sebenarnya aku ngajak kamu kesini aku Cuma mau ngungkapin perasaan aku. Aku suka sama kamu qis, walau pun kedengarannya aneh tapi jujur dari pertama aku masuk kelas aku langsung suka sama kamu.”

“ kamu becanda kan ?”

“ aku serius qis, tolong lah kamu serius sedikit menanggapi ini. Aku gak perlu jawaban hari ini, kapan pun kamu siap aku bakal nerima apa saja yang akan kamu katakan buat aku.”

“ oke Lo, terimakasih banget kamu udah suka sama aku tapi aku jujur sama kamu aku suka sama Viko dan aku belum bisa nerima kamu. Maaf banget.” Jawab ku tak enak.

“ hemm… dari awal aku udah tahu kok kalau kamu suka sama Viko, tapi gak papa aku pengen mencoba siapa tahu kamu masih menerima cowok lain dan ternyata kamu bener-bener masih cinta sama si Viko. Oke, tapi walau pun aku gak jadi pacar kamu, bolehkan aku tetep jadi temen kamu.” Balas Lilo dengan senyum yang sedikit di paksakan.
***

Mlm balqis, ge pa ne ?
Dah bobox yahh..?

Aku tercengang melihat sms yang datang dari Viko, tumben amat dia SMS aku dan di tahu dari mana nomer hape ku. Kalau aku wajar tahu nomer hapenya, jelaslah aku kan suka masa gak punya nomer dia.

Viko juga mengajak aku ke café malem ini, kebetulan malem ini adalah malem minggu jadi aku di izinin sama ibu. Ternyata si Viko udah lama juga suka dengan ku, tapi semenjak dia mendengarkan gosip yang di buat si rani dia jadi benci. Tidak hanya itu viko juga bercerita kalau sebelum si viko mendengar gosip itu sering viko mengirim salam dengan ku, bahkan tak jarang bunga juga melalui rani tapi tidak sampai padaku.

Hari jum’at 17 juni 2012
Aku resmi jadian dengan VIKO ADITYA, aku sangat berterimakasih dengan Putri sahabat ku. Dan tidak hanya putri saja tapi ini juga yang menjelaskan adalah si Lilo karena dia enggak mau terus melihat aku berharap dengan orang yang salah paham dengannya.

IKAN KECIL



Kau bawa aku kepadang rumput, yang sebuan lalu aku minta tapi baru sekarang kamu bisa mengantarkanku ke tempat yang aku sangat dambakan. Benar ini sangat terobati walau sudah telat sebulan, tapi aku senang karena kamu menyempatkan kesibukan mu untuk menemaniku. Kulihat senangnya puluhan bebek yang bermain di pinggiran sawah, ku mainkan manisnya putri malu. Kau hanya diam di pojok sana tidak menghiraukan kebahagiaanku ini.

“ kamu kenapa ? apa kamu ada masalah.” Tanyaku pada mu yang sepertinya sedang menikmati hisapan rokok yang terahir.

“ tidak apa-apa, aku hanya ingin menikmati alam ini saja.” Balasnya tak sempat melirik kearahku, aku pergi meninggalkannya, memainkan air sawah dengan tanganku, ikan-ikan kecil pun mendekati ku.

“ hai manusia, apa kau tahu suami mu itu sedang punya masalah ?” ucap ikan yang sangat manis.

“ maksudmu apa ? apa kamu mengejek ku ?” tanya ku kaget dengan perkataannya.

“ coba tanyakan saja dengan nya, atau kamu ajak dia pulang.” Perintahnya agar aku percaya pada ikan yang langsung pergi meninggalkanku.

Aku tak tahu apa yang terjadi, memang aneh rasanya dia tiba-tiba mau mengajak ku pergi ke padang rumput ini, sedangkan ini tidak pernah aku ungkit semenjak dia mengatakan jangan melakukan hal yang tidak penting, lebih baik kerja. Itu yang kamu katakan saat aku memintanya sebulan yang lalu. Aku mulai curiga dengan ini, kenapa dia diam saja tak biasanya dia murung dan lusuh dan pulang dari kantor hanya untuk mengantarkan ku pergi ke padang rumput ini.

“ mas sebaiknya kita pulang saja, sepertinya mas masih sakit.” Ajak ku pada suamiku yang memang terlihat semakin tak jelas raut wajahnya.

“ ehm… kamu sudah puas dik ?”

“ sudah mas, benar-benar sudah tenang sekarang.” Jawab ku meyakinkannya.

Ditariknya nafas yang begitu panjang, sepertinya melepaskan semua masalah yang sedang menempel, di pegangnya tanganku seakan begitu kencangnya genggaman yang tak biasa ini. Dia seperti takut kehilanganku.

“ dik, kamu tak akan pernah meninggalkan mas kan ?” tanya nya setelah memasuki mobil.

“ mas… kok mas ngomong seperti itu ? mas ada apa kok tiba-tiba aneh gini.? Ya jelas lah adik tidak akan meninggalkan mas.”

“ terimakasih iya dik, tapi kamu janji kan ?” kamu meyakinkan jawaban ku.

“ iya mas, aku janji.” Aku tak berani lagi mengulang pertanyaan ku yang tidak dia jawab, aku yakin kamu masih ada masalah sampai menanyakan hal yang tidak perlu dijawab seperti itu. Kamu melajukan mobil dengan begitu santainya, kamu nikmati perjalanan ini.

***

Setelah kamu pergi kekantor, aku bongkar semua komputer yang terhubung dengan semua arsip kantormu karena aku yakin ini adalah masalah kantor, karena tidak semangatnya kamu menyambut kedatangan pagi ini. Ku buka satu persatu folder-folder  yang ada dalam komputer ini, tidak ada tanda-tanda yang mengatakan kantormu sedang ada masalah.

Ini adalah folder terahir, sepertinya benar bukan masalah kantor mu ini, tapi apa ? semua jawaban dari pertanyaan itu berkerumunan menjawab dengan rasa takut ku untuk mengungkapkannya. Mungkin dia menghamili orang, atau bisa saja dia menabrak anak orang sampai dia harus mengganti rugi yang begitu besar dan kalau tidak dia harus dipenjara karena telah terkait kasus pembunuhan. Tapi seprtinya tidak mungkin, aku kenal suamiku dan itu tidak akan terjadi. Walau pun itu bisa saja kamu lakukan dengan tidak sengaja atau pun khilaf.

Ya tuhan curiga ku yang berlebihan itu tidak ada yang benar, dia benar masih merasakan masalah yang berat, semua klien dan partner kerjanya dari luar negeri memutuskan kontrak semua. Karena adanya kecurangan, bahkan tidak hanya itu perusahaan terancam bangkrut, sudah banyak nama yang tercantum dalam kecurangan ini.

Aku benar-benar memutar otak bagaimana caranya agar aku bisa membantu masalah mu, apakah aku harus kembali bekerja, karena mudah saja aku kembali bekerja di tempat ku yang dulu. Dimana pertama kali kita bertemu di kantor tempat ku kerja saat kamu datang untuk meeting penting dalam proyek pembangunan perusahaan mu. Tapi setelah menikah dengan mu, tak sedikitpun kamu mengizinkan ku untuk bekerja.

“ kenapa kamu tidak menceritakan itu pada ku mas ?” tanyaku padamu yang baru saja pulang dari kantor dengan wajah yang masih murung, walaupun aku sambut dengan senyum kamu hanya membalas dengan senyum terpaksa, itu terlihat jelas.

“ aku tahu kamu bakal mengetahui ini dengan sendirinya dik, mas minta maaf kalau memang sudah merahasiakan ini. Karena aku tidak mau mengikutkanmu dalam masalah mas ini.” Kamu menjawab seperti tidak berdosa sama sekali.

“ kalau mas terbuka dengan ku, mungkin aku bisa membantu mas dan kita akan pecahkan masalah ini secara bersama-sama. Dan aku yakin jika kita memecahkan masalah bersama ini akan cepat selesainya.”

“ aku tahu aku salah dik, tapi ini mas lakuin karena mas gak mau melihat kamu harus ikut banting tulang juga untuk kehidupan kita, aku tidak mau jika nanti di akhirat harus menjadi kepala keluarga yang tidak bertanggung jawab.”

“ mas… tolong jangan egois, anak kita masih mau sekolah. Jangan sampai dia putus sekolah karena  semua aset  perusahaan di sita karena tombokan hutang pada bank itu yang membengkak.”

Memang susah untuk memenangkan pertempuran dengan  suami yang ingin menunjukkan bahwa dia lah satu-satunya orang yang ingin bertanggung jawab terhadap anak istrinya. Sore itu masih saja dia belum mengizinkan ku untuk membantunya. Tapi bagaimana pun aku harus menemukan cara agar bisa menyelesaikan masalahnya.

Aku teringat saat kami pergi ke padang rumput yang luas, disana ada sawah yang memiliki ikan kecil pemberi berita. Mungkin saja aku bisa menanyakan bagaimana caranya agar  masalah ini bisa terpecahkan.

Ku mainkan air yang jernih, tapi ikan itu tak juga kunjung datang. Terus kumainkan dan yang kucari datang juga. “ kenapa kamu memanggil ku ?” tanya ikan kecil itu.

“ ikan kecil yang manis  aku bingung dengan masalah suami ku, apakah kamu bisa membantu agar masalah ini terpecahkan.” Tanyaku pada ikan kecil.

“ yang bisa membantumu hanya tuhan mu saja, silahkan kamu berdo’a saja dan yakinlah suami mu pasti akan bisa memberikan yang terbaik untukmu. Dan jangan khawatirkan dia, karena dia juga selalu berikhtiar kepada sang pencipta. Kalian masih mendapatkan cobaan dan jadikanlah cobaan itu sebagai bumbu kehidupan, yang akan mewarnai indahnya perjuangan.”

HUJAN



Aku dulu sangat membenci hujan, setiap aku pulang dari sekolah, melihat ibu ku basah karena hujan setiap dia pulang dari kebun. Sungguh aku sangat membenci hujan itu. Tapi dengan cepat dia mengubah perasaan ku yang dulu benci menjadi suka, benar kata orang jangan lah terlalu benci dengan sesuatu, karena nantinya kamu akan senang dengan yang kamu benci itu.

Setiap aku mengeluh tentang hujan, dia selalu mengatakan “ janganlah kamu mengeluh dengan hujan, coba kau ingat saat kekeringan kamu meminta hujan tapi saat hujan malah engkau hanya bisa menyumpah serapahkan nya.” Selalu aku ingat kata-kata mu itu.

Dia bercerita padaku tentang mengapa dia tidak mau membenci hujan, mengapa dia ingin selalu melihat hujan dan menantikan kedatangan hujan. “ dulu waktu aku masih kecil umur 8 tahun yang belum mengerti apa-apa tentang hujan, panas yang sangat menyengat, tanah yang kering sampai membelah,  seakan-akan menelan manusia dan apapun yang ada di dekatnya. Setiapa aku pulang dari sekolah di tengah terik nya matahari merasakan kehausan karena jarak ke sekolah yang aku tempuh sangat jauh sekitar 5 km dan itu pun kujalani dengan menapaki jalan yang tak bisa dilalui kendaraan, ingin rasanya aku menangis mencari setetes air saat itu, tapi tak kutemukan walau hanya untuk membasahi ujung bibir ku saja. Dan saat itu aku berdo’a pada sang ilahi agar diturunkan karunianya, dan saat itu pula dikirimkannya teman untukku yaitu hujan. Aku sangat berterimaksih dengan tuhan, aku berterimakasih dengan hujan yang sudah membantuku. Semenajk itulah aku jatuh cinta pada hujan.” Begitulah cerita yang selalu menjadi cerita dikalangan teman-temannya.

Pernah aku membantah dengan dia, “ tapi tidak selalu hujan membantu, kadang hujan juga membawa bencana, apa kamu mau rumah kita tenggelam dengan seringnya kau memanggil teman mu itu.”

“ tidak… , tidak akan pernah aku membencinya aku akan selalu menemaninya dan akan selalu kami bersama dan dia tidak akan membuat bencana untuk kita.” Bantah nya tidak menerima bantahan ku.

Aku tidak habis pikir apa yang ada di dalam otaknya ? kadang dia memaksa ku untuk menikmati rintik hujan yang dingin menusuk tulang, aku tak bisa menolak dia karena kalau tidak aku ikuti dia akan cemberut dan tidak mau memakan-makanan masakan ku.

Salahkah jika aku harus mengikuti kegilaan ini, kegilaan yang sekarang membuat aku menunggu datangnya hujan, kebahagiaan saat hujan datang dan kebahagiaan saat dia tertawa kepadaku dan menunjukkan banyaknya jumlah gigi nya yang rapat dan indah di hiasi basahnya tetesan hujan mengenai bibirmu yang indah, benar saja yang dia katakan dulu bahwa jika aku menikmati hujan maka aku takkan merasakan kesepian karena ruh hujan adalah ruh dia.

***

Hujan yang aku tunggu hari ini begitu lebatnya, aku berlari menuju halaman rumah ku untuk menikmati hujan bersama janinmu, walau tak ada dia di sini tapi hujan ini seakan mengirimkan kehangatan yang mengalir dari tubuh mu. Kunikmati indahnya rintik hujan ini, karena ku tahu dia sedang menikmatinya juga, dia berada dikantor saat ini dan inilah waktu pulang mungkin dia sedang menikmati hujan di halaman kantornya. Dia takkan malu melakukan itu karena teman sekantornya sudah tahu kalau memang dia bersahabat dengan hujan.

Lelah seharian bermain bersama hujan, kusiapkan masakan yang sangat nikmat untuk menyambutnya pulang dari kantor, tapi dentang jam yang sudah berbunyi sebanyak sepuluh kali tak juga mengabarkan akan kepulangannya. Kuhubungi handphone nya tapi tidak pernah kau aktifkan, ku telpon kantormu tak juga ada sambungan. Aku khawatir dengan dia, kegelisahan yang menyergapku membuat aku tidak tenang.

Tak lama dari kegelisahan ku, dia pulang dengan keadaan yang sangat bersih, seperti tidak disentuh oleh derasnya hujan. Tidak seperti biasanya, dia tidak menikmati hujan ini sama sekali.
“ Wan, kenapa kamu tidak menikmati hujan hari ini.” Tanyaku dengan penuh harapan menunggu jawaban yang tidak membuatku cemas.

“ hari ini aku sangat bahagia sayang, aku sudah menikmati hujan hari ini. Apa kau tidak merasakan kehangatan ku saat kau bermain hujan….”

“ Ssst… kamu pasti sangat lelah dan lapar ?” kutarik tangan nya menuju meja makan, dia sangat dingin aku bisa merasakan detak jantungnya yang tidak ada. Bahkan makanan itu hanya dia lihat, tidak disentuhnya sama sekali. “ kamu sakit iya ? ya sudah ayok kekamar kita tidur saja.” Lanjut ku yang tidak tega melihat rautnya yang sangat pucat.

Dikamar dia tidak sama sekali tidur, dia hanya menyenderkan punggungnya di kepala ranjang, seperti biasa aku meletakkan kepalaku diatas dadanya yang bidang. Benar saja dia sangat dingin, aku tak tega merasakan kedinginan ini, pasti dia sangat tersiksa. Dia malah menagatakan “ Fit, jaga dan besar kan anak kita dengan penuh kasih sayang kenal kan dia pada hujan karena aku akan selalu memberikan kehangatan untuk kalian saat hujan datang.” Ucapnya lirih

“ apa yang kau katakan, kau sakit kan ? istirahat saja jangan menyiksa dirimu sendiri. Tak tahukah kamu wan, aku sangat menghawatirkanmu.”

Aku terlelap dalam kehangatan dan kelembutan nafasnya, kunikmati tidur ini karean terdengar suara rintikan hujan yang mengiringi nada-nada kehidupan yang sangat sempurna ini. Saat terbangun aku dari tidur karena kerasnya petir tak sehelai kain dan sehelai nafaspun kecuali diriku di kamar ini, aku hanya bermimpi. Dimana dia ? mengapa sudah jam satu malam ini belum pulang juga bahkan tak satu SMS pun yang datang mengabarkan bahwa dia malam ini akan pulang.

Akan kutunggu kepulanganmu malam ini, udara yang dingin tak membuatku mengantuk lagi karena aku tak sabar ingin melihatmu disini, Ingin menyambutmu, dan ingin sekali membuatkan teh hangat kesukaan mu.

Terdengar telpon ruang tamu yang sanagt sunyi ini sehingga semua sudut ruang tak ada yang terlewat dari kerasnya suara deringan itu. Aku tahu itu pasti dari dia, dia akan mengabarkan bahwa tak bisa pulang karena kerjaan kantor masih banyak. Aku tahu itu dan itu saja akan membuatku tenang.

“ Hallo dengan ibu wanto ?” suara dari seberang sana yang ternyata bukan dia.

“ benar, kalo boleh tau  ini dengan siapa iya ?”

“ ini Santi bu dari kantor pak wanto….” perempuan itu menceritakan apa yang terjadi dengan suamiku, dan sungguh aku tidak percaya. Mengapa harus dia, mengapa tidak orang lain saja.

Dia di tugaskan oleh kantornya pagi kemarin ke jakarta untuk menemui tamu dari luar negeri, tapi takdir berkata lain. Dia dibawa arus banjir yang melanda ibukota itu, dan baru saja ditemukan, karena dia utusan kantor maka yang pertama dihubungi adalah bagian kantornya.

Aku tidak percaya, sudah aku katakan dulu tapi kamu tidak percaya hujan tidak selamanya membawa kebahagiaan untukmu, sekarang engkau mati pun karena kejahatan hujan, hujan tak pantas untuk jadi teman mu. Tapi apa ? kamu selalu membantah, selalu saja membela hujan dan tiba-tiba kau datang ke mimpi ku untuk mengenalkan hujan pada anakmu itu tidak akan kulakukan wanto, aku menyayangi anakmu, dan aku harap kamu takkan mengirimkan kehangatanmu lewat hujan itu lagi.

ALUNAN MENDAMAIKAN





Selalu kudengarkan alunan mendamaikan, saat hujan datang maupun saat panas menerkam. Begitu sejuk nya alunan ini, kubayangkan aku berada di tengah hamparan sawah nan luas dan hijau, tak kuhiraukan lagi suara kicauan burung dan tak kudengarkan lagi lantunan gemercik air. Kunikmati keindahan ciptaan sang pencipta ini, kurentangkan tangan ku, kuhirup aroma lumpur yang begitu lembut di lubang hidung ini.

Teringat lagi aku akan kisah kita yang telah lalu, dimana kamu tidur tepat disamping ku. Ku belai rambutmu yang begitu lembut dan wangi. Kurasakan kehadiran dirimu di dekat ku, berharap saat ku buka mata ini kamu sudah ada dihadapan ku dan melemparkan senyum manis dari bibirmu, oh tuhan begitu indah senyumnya. Mengapa kamu ciptakan senyum yang indah itu ? mengapa tak kamu berikan pada mentari pagi saja. Kenapa dia yang begitu kamu percayai untuk mendapatkan senyum itu.

Mengapa kamu tega meninggalkan ku, bukankah kamu sudah berjanji di bawah pohon nyiur ini, bahwa kamu akan selalu disamping ku, akan menjaga ku dan menjadikanku bagian dari hidup mu. Tapi apa ? hanya alunan yang mendamaikan ini yang menemaniku sekarang kamu tak lagi pantas berada di dekat ku, seharusnya kamu lenyap dari pikiran ku. Sungguh aku tak bisa melupakan mu, sungguh senyum mu begitu membuatku berantakan.

Tak terasa aku pun merasakan belaian lembut dari tangan mu yang ku rindukan siang yang sejuk ini, kamu menyentuhku kamu sungguh jahat bahkan lebih jahat dari seorang penjegal, lebih jahat dari pada teroris. Kamu tak ubahnya seorang pembunuh berkepala dua, entah istilah itu aku dapat kan dari mana, yang kutahu kamu tak lebih dari seekor buaya, kamu sama saja dengan buaya tak bertaring tajam karena kamu adalah buaya tanpa gigi.

Sungguh jika waktu dapat ku ulang aku tak akan mau lagi mengenal mu, dan aku akan sungguh-sungguh tak akan pernah mau melihatmu. Kamu hanya pengganggu dalam hatiku, aku berharap akan ada bengkel yang spesialis penambal hati yang terkena tajamnya lidah yang kamu tancapkan tepat di mana aku berharap akan ada penancap yang permanen. Tapi aku salah, dengan segampang itu aku membuka pintu hati ku dan dengan sukarelanya aku membiarkan mu menancapkan cintamu yang manis diluarnya saja.

Oh tuhan inikah mimpi setelah dua bulan dia pergi terus dia mau datang seenaknya saja dihadapan ku, tak kuterima walau tangisan darah diberikannya padaku. Aku sudah terlanjur mengutuk dirinya untuk tidak mengganggu ku lagi, aku ingin mencari penggantinya saja, aku tak mau terlarut tapi ini sangat percuma, memory yang kamu buat begitu besarnya sampai aku tak dapat melupakannya. Kamu benar-benar tak tahu diri, aku sangat membencimu.

Angin yang tadi menyentuhku tiba-tiba terasa hilang, ku buka mata yang telah ku pejamkan. Mengapa kamu tersenyum di sudut gubuk itu, apa memang benar kamu sudah melupakan kenangan kita. Apa karena aku tak bisa hamil sampai kamu teganya meninggalkan ku, tapi bukankah kamu telah berjanji akan tetap setia walaupun aku ditakdirkan mandul, aku tak bisa mempunyai keturunan.

Ku dekati kamu yang masih tetap berdiri dan menunjukkan senyum bak seorang penjahat yang menang dalam pertempuran, kamu memang benar telah melupakan ku. Buktinya kamu malah lari menjauhi ku, apa mau mu ? apa yang kamu inginkan dari ku, kamu hidup hanya untuk menyakiti ku saja, tanpa kamu berpikir untuk sedikit membahagiakan ku.

Apa kamu lupa begitu bahagianya kita dulu, saat pertama kita menikah. Aku tahu kita tidak melalui proses pacaran, aku tahu kamu melihat wajahku saja sehari sebelum kita menikah. Tapi kamu lupakan begitu saja dari awal kebahagiaan kita dulu, kamu ajak aku kehamparan sawah luas ini, tempat aku berdiri dan menikmati sejuknya rerumputan yang hijau, kontras dengan hijaunya padi-padi yang sebentar lagi akan menguning. Pertama kamu gendong aku, yang semula aku tidak percaya kamu bisa menahan beban ku karena kamu baru sebulan menjalani operasi, tapi dengan keperkasaanmu aku menikmati larian kecil yang begitu berirama.

Aku sungguh tak kuasa mengejarmu, kuhempaskan tubuhku diatas rumput sawah ini, aku tidak peduli jika baju ku akan kotor terkena lumpur, senyum mu tadi sangat menyiksaku. Apa kamu benar-benar nyata adanya, aku tidak percaya jika kamu mau mendekati ku lagi. Apa karena aku di vonis dokter tidak bisa mengandung anak mu ? kamu malu tidak mempunyai keturunan, kamu memang sudah benar melupakan janjimu.

***

“ kenapa dia ? inikan perempuan yang di tinggalkan suaminya sudah dua bulan ini.” Kudengar bisikan yang tidak tahu dari mana asalnya, benar saja setiap aku bertemu dengan orang-orang, mereka selalu mengejek dan mengolok-olok ku karena aku di tinggalkan suamiku.

Ku buka mata ini, berada di mana aku ini bukankah aku tadi berada di sawah yang penuh kenangan itu, aku sedang menikmati indah dan sejuknya hamparan hijau nan luas. Tapi kenapa aku berada di sekeliling orang-orang ini, kenapa aku berada di teras depan rumah ku dengan wajah-wajah yang menyambut bukanya mataku.

“ kamu tadi pingsan disawah, makanya kami angkat kesini.” Ucap seorang tetangga seolah tahu kebingungan yang berkecamuk ini. Benar saja aku lelah, bagaimana tidak dia lepas dari kejaranku, padahal sangat munafik aku jika benar aku menolakmu.

“ jangan terlalu sering kesawah itu lagi, seharusnya kamu urus dirimu. Lihat badan mu seperti tulang terbungkus kulit saja. Lupakanlah dia, kalau emang kamu hanya jadi korban penelantarannya.” Ucap salah seorang tetanggaku.

  tidakk, suamiku masih keluar kota dan minggu ini dia akan pulang.”

“ kami sudah tahu kok, jadi tidak perlu lagi di tutup-tutupi lagi.” Tambah tetangga yang benar-benar membuatku ingin mencekiknya, tak punya perasaan kah orang itu. Tapi benar katanya, justru yang tidak berperasaan kamu dan hanya kamu, kenapa kamu tega meniggalkanku.

Tak ada guna kamu buatkan aku rumah besar dan mewah ini, tapi kamu hanya mengasingkanku saja, meninggalkan aku di tempat yang jauh dari keluargaku, apa kamu sengaja mau memisahkan aku dengan sanak saudaraku. Aku ingin kamu pulang, aku tidak membutuhkan hartamu, aku hanya butuh kamu.

Terus saja aku medatangi hamparan sawah itu, ku dengarkan lagi alunan yang mendamaikan yang pernah kita dengarkan, dan selalu kita dengarkan. Sampai sekarang pun dentang-dentang nada yang kamu buatkan untuk ku selalu terngiang di telingaku, suaramu yang begitu indah membuatku benar-benar tak bisa melupkanmu.

Ya tuhan ini benar-benar nyata, hembusan nafasmu, aroma tubuhmu, tangan lembutmu ada di kepalaku. Benar kamu menciumku, aku tak mau membuka mata ini, aku takut kamu akan pergi lagi dan tak kembali. Aku mulai merasakan tubuh mu berada disamping ku, aku merasakan hembusan nafasmu mengenai wajahku, sungguh aku tak akan membuka mataku, kalau pun kehadiranmu hanya dapat kurasakan saat aku menutup mataku saja, itu sudah cukup bagiku, karena aku sudah benar tidak sanggup menahan rinduku.

“ bukalah mata mu sayang.” Suara yang sungguh mirip dengan suara mu, aku tetap bertahan tak akan membuka mataku. Biarkan saja aku siang dan malam disini jika memang aku harus merasakan kehadiranmu dengan cara ini. “ bukalah mata mu sayang, apa kamu tidak ingin melihatku.” Ulangmu.

Kubuka mataku, aku terbelalak, dia sudah duduk dan tersenyum dihadapanku, ku sentuh wajahnya, tak terasa lagi air mataku mengalir begitu deras dan sangat terasa kamu tidak ada perubahan dari awal kita bertemu sampai detik ini. “ apakah ini nyata ? atau hanya halusinasiku saja ?” ucapku lirih tak percaya.

“ iya ini aku, maafkan aku sayang jika aku harus meninggalkanmu dua bulan lebih ini. Aku benar-benar  tak kuasa menahan sakit ini, apalagi aku harus menceritakan sakitku ini pada mu. Tapi sungguh aku tidak bermaksud menyakitimu, dan aku kembali karena aku tak sanggup berpisah dari kehangatn cinta yang kamu berikan. Dan mulai sekarang kamu jangan sedih lagi iya, aku janji tak akan mengulangi ini lagi. Karena kamu adalah alunan mendamaikan bagiku.”